Hanya Dia
-------------
Hanya dia
yang mampu begitu
Baik sekaligus kejam
Cinta sekaligus dendam
Hanya dia
yang mampu begitu
Penuh hasrat dan gelisah
Berjaringkan hasrat semesta
Hanya dia
yang mampu merusakku
yang mampu meninggalkanku
yang mampu berpikir untuk dirinya
Aku belum bisa begitu
Egois
Kejam
Tega
Pergi takkan selesai
Tinggalpun ukir derita
Jadi bagaimana kini arahku
Pelita baru tak kunjung beminyak
Hanya dia
yang sanggup begitu padaku...............
aku sempat merasa mati ketika kau pergi.
dulu. bertahun lalu.
sedang aku belum lagi memilikimu.
jadi
jangan kau tanya sampai kapan
jangan tanya keyakinan perasaanku
tentang kamu. semua tentang kamu
karena saat ini aku sedang takut
takut mati menjadi sesuatu yang pasti
karena aku mencintaimu
dan tak mungkin bisa memiliki
kau dan aku mungkin menyatu
atau terpisah abadi oleh takdir yang kita miliki
jadi
mencintaimu seperti tengah berjudi
dan taruhannya adalah jiwaku
memilikimu dan terus hidup
atau melupakanmu lalu mati
-------------
Hanya dia
yang mampu begitu
Baik sekaligus kejam
Cinta sekaligus dendam
Hanya dia
yang mampu begitu
Penuh hasrat dan gelisah
Berjaringkan hasrat semesta
Hanya dia
yang mampu merusakku
yang mampu meninggalkanku
yang mampu berpikir untuk dirinya
Aku belum bisa begitu
Egois
Kejam
Tega
Pergi takkan selesai
Tinggalpun ukir derita
Jadi bagaimana kini arahku
Pelita baru tak kunjung beminyak
Hanya dia
yang sanggup begitu padaku...............
aku sempat merasa mati ketika kau pergi.
dulu. bertahun lalu.
sedang aku belum lagi memilikimu.
jadi
jangan kau tanya sampai kapan
jangan tanya keyakinan perasaanku
tentang kamu. semua tentang kamu
karena saat ini aku sedang takut
takut mati menjadi sesuatu yang pasti
karena aku mencintaimu
dan tak mungkin bisa memiliki
kau dan aku mungkin menyatu
atau terpisah abadi oleh takdir yang kita miliki
jadi
mencintaimu seperti tengah berjudi
dan taruhannya adalah jiwaku
memilikimu dan terus hidup
atau melupakanmu lalu mati
Apa yang aku pintal selama ini?
Kesetiaan?
Apa yang aku harapkan?
bahwa waktu akan menyembuhkan dan melupakan?
Tidak.
Apa yang aku pintal selama ini?
Kebencian karena keterpojokan.
Kesetiaan?
Apa yang aku harapkan?
bahwa waktu akan menyembuhkan dan melupakan?
Tidak.
Apa yang aku pintal selama ini?
Kebencian karena keterpojokan.
Kala Aku Tiada
Apa yang aku tinggalkan kala aku tiada?
adakah itu seonggok kenangan yang singgah sebentar dihati
lalu memudar karena dilupakan waktu?
Apa yang aku tinggalkan?
ketika matahari merah terbit di timur laut,
belulangku menjadi bubuk putih
dan aku ditempatkan didalam guci.
Pada ulang tahunku, hari penikahanku, natal atau tahun baru
aku dikunjungi.
Setelah itu sepi. Memucat karena kerinduan.
Apa yang aku tinggalkan kala aku tiada?
cinta.
Izinkan kumiliki senyummu.
Apa yang aku tinggalkan kala aku tiada?
adakah itu seonggok kenangan yang singgah sebentar dihati
lalu memudar karena dilupakan waktu?
Apa yang aku tinggalkan?
ketika matahari merah terbit di timur laut,
belulangku menjadi bubuk putih
dan aku ditempatkan didalam guci.
Pada ulang tahunku, hari penikahanku, natal atau tahun baru
aku dikunjungi.
Setelah itu sepi. Memucat karena kerinduan.
Apa yang aku tinggalkan kala aku tiada?
cinta.
Izinkan kumiliki senyummu.
Biarlah dalam keterpurukanku aku masih dapat bernyanyi
sebait lagu tentang bagaimana aku mencintaimu.
Biarlah dalam kesepianku aku masih dapat menulis
selarik puisi tentang kepingan hati yang kupersembahkan hanya untukmu.
Biarlah dalam kesedihanku aku masih bisa meratap
seisak tangis tentang cinta yang pernah kurangkum untukmu.
Biarlah dalam keangkuhanku aku masih dapat mengaku
bagaimana diri kehilanganmu..
sebait lagu tentang bagaimana aku mencintaimu.
Biarlah dalam kesepianku aku masih dapat menulis
selarik puisi tentang kepingan hati yang kupersembahkan hanya untukmu.
Biarlah dalam kesedihanku aku masih bisa meratap
seisak tangis tentang cinta yang pernah kurangkum untukmu.
Biarlah dalam keangkuhanku aku masih dapat mengaku
bagaimana diri kehilanganmu..
Apa yang mereka lakukan,
sehingga kamu selalu datang kepadaku
membawa luka?
Duduklah didekatku
Menangislah. Teriakkan dukamu
Aku mendengarkan.
Tidurlah dalam dekapanku
Kehangatannya mendamaikan
Aku akan berjaga untukmu.
Kecupan ini, nafas cintaku.
kubawa kembali semua gairah
kuletakkan matahari dimatamu
menataplah dengan hidup.
Sayang sekali,
seharusnya kamu lebih bahagia
bila bersamaku...
Kau datang dan tawarkan cintamu padaku
Begitu manis dan indah
Kau bawa aku mengarungi samudra cintamu
Kau berikan aku harapan .........
Kau gantung aku dengan ketidakpastian
Kau duakan cintamu dengannya
Berakhir sudah cinta kita
Sampai sudah batas ketidakpastian itu
Akhirnya kau tetapkan keputusanmu
Kalian akan menikah juga
Sedih, sakit, bahagia bercampur aduk
Tak tahu musti bersikap
Tegarkan hati menerima semua ini
Walaupun ku masih menyayangimu
sehingga kamu selalu datang kepadaku
membawa luka?
Duduklah didekatku
Menangislah. Teriakkan dukamu
Aku mendengarkan.
Tidurlah dalam dekapanku
Kehangatannya mendamaikan
Aku akan berjaga untukmu.
Kecupan ini, nafas cintaku.
kubawa kembali semua gairah
kuletakkan matahari dimatamu
menataplah dengan hidup.
Sayang sekali,
seharusnya kamu lebih bahagia
bila bersamaku...
Kau datang dan tawarkan cintamu padaku
Begitu manis dan indah
Kau bawa aku mengarungi samudra cintamu
Kau berikan aku harapan .........
Kau gantung aku dengan ketidakpastian
Kau duakan cintamu dengannya
Berakhir sudah cinta kita
Sampai sudah batas ketidakpastian itu
Akhirnya kau tetapkan keputusanmu
Kalian akan menikah juga
Sedih, sakit, bahagia bercampur aduk
Tak tahu musti bersikap
Tegarkan hati menerima semua ini
Walaupun ku masih menyayangimu
Dear ...
Saat aku merangkaikan kalimat demi kalimat dalam surat ini, aku bertanya-tanya, apakah langkahku dalam mengarungi kehidupan bersama dirimu adalah salah ? atau merupakan suatu langkah bijaksana ? atau mungkin langkah terhebat yang pernah kujalani dalam kehidupanku menikmati dunia ciptaan-Nya ?
Dear ...
Aku masih bertanya dalam hatiku, aku masih memiliki kebimbangan dalam nuraniku, aku masih ragu dalam jiwaku. Adakah kau tambatan hatiku ? atau mungkin kita hanya sepermainan ? tanpa rasa, tanpa cinta ?
Dear ...
Urat-urat kemarahan selalu tampil paling muka dalam panggung kehidupan kita. Otot-otot kekerasan selalu maju paling dulu dalam panggung nuansa cinta kita. Adakah ini benar adanya ? siapakah pemikir bijak bestari sesungguhnya ? dirikukah ? atau dirimu ?
Dear ...
Ketika malam merunduk, rembulan pucat bersembunyi, aku mendoa, menyeru dalam keagungan dan kebesaran-Nya, memohon dengan sungai air mata di pipiku agar Dia dapat menunjukkan semua yang sesungguhnya. Kesabaranku sudah menipis habis tak seperti dulu lagi, kerapuhan batinku sudah semakin parah digerogoti oleh fenomena kehidupan yang terus bermunculan dalam setiap lariku.
Dear ...
Aku ingin berkata bahwa kesayanganku, kecintaanku adalah untukmu namun lidahku kelu, aksara membuta, kalimat tak mencapai arti hakiki. Termangu aku dalam sepi, termangu aku dalam kesendirian, mungkin kemampuanku seperti pujangga yang sudah tua rentan dan hilang ditelan jaman ketika karyanya hanya dicampakkan orang.
Dear ...
Angkara dan amarah sebagai sobat telah membuat diri kita meruntuh dalam asa yang semakin kelam, aku terus menggapai mentari, aku terus mencari pelangi, aku terus berlari menuju chandra purnama tapi ... adakah dirimu bersamaku ?
Dear ...
Hatiku lelah, jiwaku kembali gundah, batinku mendera gulana. Sembilu menusuk seperti belati berkarat, perlahan namun pasti dan menyakitkan.
Dear ...
Tak kuharap banyak, tak kuminta berkelebihan. Sayangi aku apa adanya, cintai aku sebagaimana mestinya, terima aku sesungguhnya. Hanya itu.
diriku yang mencintaimu selalu senantiasa,
__________________
"... dan ketika rengkuhan itu menghilang dalam bayang bulan separuh, sukma menghampa dalam damba jelaga cinta pekat tak berbias ..."
Saat aku merangkaikan kalimat demi kalimat dalam surat ini, aku bertanya-tanya, apakah langkahku dalam mengarungi kehidupan bersama dirimu adalah salah ? atau merupakan suatu langkah bijaksana ? atau mungkin langkah terhebat yang pernah kujalani dalam kehidupanku menikmati dunia ciptaan-Nya ?
Dear ...
Aku masih bertanya dalam hatiku, aku masih memiliki kebimbangan dalam nuraniku, aku masih ragu dalam jiwaku. Adakah kau tambatan hatiku ? atau mungkin kita hanya sepermainan ? tanpa rasa, tanpa cinta ?
Dear ...
Urat-urat kemarahan selalu tampil paling muka dalam panggung kehidupan kita. Otot-otot kekerasan selalu maju paling dulu dalam panggung nuansa cinta kita. Adakah ini benar adanya ? siapakah pemikir bijak bestari sesungguhnya ? dirikukah ? atau dirimu ?
Dear ...
Ketika malam merunduk, rembulan pucat bersembunyi, aku mendoa, menyeru dalam keagungan dan kebesaran-Nya, memohon dengan sungai air mata di pipiku agar Dia dapat menunjukkan semua yang sesungguhnya. Kesabaranku sudah menipis habis tak seperti dulu lagi, kerapuhan batinku sudah semakin parah digerogoti oleh fenomena kehidupan yang terus bermunculan dalam setiap lariku.
Dear ...
Aku ingin berkata bahwa kesayanganku, kecintaanku adalah untukmu namun lidahku kelu, aksara membuta, kalimat tak mencapai arti hakiki. Termangu aku dalam sepi, termangu aku dalam kesendirian, mungkin kemampuanku seperti pujangga yang sudah tua rentan dan hilang ditelan jaman ketika karyanya hanya dicampakkan orang.
Dear ...
Angkara dan amarah sebagai sobat telah membuat diri kita meruntuh dalam asa yang semakin kelam, aku terus menggapai mentari, aku terus mencari pelangi, aku terus berlari menuju chandra purnama tapi ... adakah dirimu bersamaku ?
Dear ...
Hatiku lelah, jiwaku kembali gundah, batinku mendera gulana. Sembilu menusuk seperti belati berkarat, perlahan namun pasti dan menyakitkan.
Dear ...
Tak kuharap banyak, tak kuminta berkelebihan. Sayangi aku apa adanya, cintai aku sebagaimana mestinya, terima aku sesungguhnya. Hanya itu.
diriku yang mencintaimu selalu senantiasa,
__________________
"... dan ketika rengkuhan itu menghilang dalam bayang bulan separuh, sukma menghampa dalam damba jelaga cinta pekat tak berbias ..."
"maukah kau ?"
'TIDAK !'
"berartikah diriku untukmu ?"
'JANGAN BERI PERTANYAAN BODOH'
hening, lengang
desah napas menemani
percakapan singkat
sungai air mata kehidupan
tangis bisu
sesak dada
himpitan dunia
menghujam ...
tidak mengerti..berartikah aku sayang?
'TIDAK !'
"berartikah diriku untukmu ?"
'JANGAN BERI PERTANYAAN BODOH'
hening, lengang
desah napas menemani
percakapan singkat
sungai air mata kehidupan
tangis bisu
sesak dada
himpitan dunia
menghujam ...
tidak mengerti..berartikah aku sayang?
entahlah tiba-tiba saja semua itu hilang
semangat kehidupan
senyum motivasi
tak lagi membayang pada langkah jejak hari ini
semua terasa seperti berantakan
bahasa tak lagi bertutur ramah
kata tak lagi menyiratkan sejuta pesona
aku benci dengan aksara-aksaraku
aku tak lagi mampu merangkai nurani rasa hatiku
mungkin dera kecewa menghantam keras
menghujam pada waktu yang tak lagi benar
aku benci hariku ...
semangat kehidupan
senyum motivasi
tak lagi membayang pada langkah jejak hari ini
semua terasa seperti berantakan
bahasa tak lagi bertutur ramah
kata tak lagi menyiratkan sejuta pesona
aku benci dengan aksara-aksaraku
aku tak lagi mampu merangkai nurani rasa hatiku
mungkin dera kecewa menghantam keras
menghujam pada waktu yang tak lagi benar
aku benci hariku ...
cintaku....
walau dunia mencaci makiku....
biarlah aku tenggelam dalam tatapanmu...
dalam senyumanmu...
dan selalu memeluk rasa yang selalu aku pertahankan untukmu
walau takdir meludahiku...
masa membunuhku..
tak kan pernah kubiarkan ....
indahmu menghilang dari hatiku..
walau dunia mencaci makiku....
biarlah aku tenggelam dalam tatapanmu...
dalam senyumanmu...
dan selalu memeluk rasa yang selalu aku pertahankan untukmu
walau takdir meludahiku...
masa membunuhku..
tak kan pernah kubiarkan ....
indahmu menghilang dari hatiku..
"mau kita bawa kemana?"
"aku nggak tahu."
"sampai kapan?"
"aku nggak tahu."
"sebenarnya, apa sih yang kita cari dari hubungan ini?"
"aku nggak tahu."
"terus, gimana, dong!? apa menurut kamu kita harus akhiri aja?"
"hmm, jangan tanya itu, deh! karena... aku juga nggak tahu."
yang kutahu aku memiliki perasaan ini untuk kamu
meski aku tahu hubungan kita ini semu, absurd
maafkan karena aku mencintaimu...
"aku nggak tahu."
"sampai kapan?"
"aku nggak tahu."
"sebenarnya, apa sih yang kita cari dari hubungan ini?"
"aku nggak tahu."
"terus, gimana, dong!? apa menurut kamu kita harus akhiri aja?"
"hmm, jangan tanya itu, deh! karena... aku juga nggak tahu."
yang kutahu aku memiliki perasaan ini untuk kamu
meski aku tahu hubungan kita ini semu, absurd
maafkan karena aku mencintaimu...

In simple words and common I surprise in terrenal language my life to you you are your altogether serious simplicity I I love to you and in a piece of poesia your seras my light, my good, the space where I feed to me on your skin that is kindness the force that moves to me inside to recommence and in your body to find La Paz If the life allows me alongside yours my illusions would creceran I do not doubt it and if the life lost at a moment that fills to me of you to love despues of amarte Life you are not scared, nor doubts (this love is too good) that your seras my woman (I you pernezco all whole number) watches my chest, I leave it open so that alive in For your tranquillity you have in your hands for my weakness the unica to me you are your fine a the so single that always I have waited for you and that you arrive at my life and your it give the light me, good, that world where your words make their will the magic of this feeling that is so strong and total and your iojos that are my peace If the life allows yours alongside me you would creceran my illusions I do not doubt it and if the life lost at a moment that Life fills to me of you to love despues of amarte you are not scared, nor doubts (this love is too good) that your seras my woman (I you pernezco all whole number) watches my chest, I leave it open so that alive in you are not scared, nor doubts (this love is too good) that your seras my woman (I you pernezco all whole number) watches my chest, I leave it open so that alive in
Yo Te Amo
Yo Te Amo
kita lambat berjumpa, ku tak berdaya mungkin kau tak perduli aku disini terluka hati...lelah ku jelang malam ku gelap sepi lama ku nanti kau tetapkan hati...ku bertahan ( cokelat)
.....Hmmmm seperti na mentari kembali ke pangkuan ku...en malam ku tak sedingin biasa nya...ada sedikit kehangatan dalam malam malam ku kini...mungkin karena rembulan sedikit bersedia menerangi jiwa kelamku...ada setitik cahaya terang di tengah gulita nya hatiku..paling tidak dia menerangi hidupku..membuat ku tak berhenti berharap dan tersenyum..makin berharap cahaya itu makin terang benderang...dan aku percaya dia bersedia membantu aku berdiri..setelah sekian lama aku lumpuh...terima kasih telah kembali menyentuh kehidupanku..dan ku hanya bisa berharap mau kah kamu menjaga dan tetep menopang kedua kaki ku untuk selama nya? agar aku bisa berdiri dan berjalan tegak menghadapi semua nya tentunya bersama mu saja...HUUAAAHHH seperti beban berat benar benar terlepas dari pundak ku...setidak nya ada sedikit celah untuk aku bersemangat menaklukan dunia ini...untuk melihat mu tersenyum bangga padaku...sayang berjanjilah ini untuk selama nya? :*muac*
bulan pucat pancarkan sinar kelam
mendung menutup hati
hujan di pelupuk
dingin meraja
sepi mendera
hanya ratap yang terdengar
satu pinta di panjatkan
"Tuhanku , Jika Kau memang ada untuk ku
Kembalikan Sayapku
agar aku dapat kembali
bersama hujan dan mimpi mimpi
para pecinta "
malaikat jatuh
terpuruk
Luka hatinya
Belati tlah tertancap di hatinya
Di hujamkan oleh dia
Sang Tercinta tlah Menikam nya
.....
Aku ingin Pulang ...
taken from "Jalu"
mendung menutup hati
hujan di pelupuk
dingin meraja
sepi mendera
hanya ratap yang terdengar
satu pinta di panjatkan
"Tuhanku , Jika Kau memang ada untuk ku
Kembalikan Sayapku
agar aku dapat kembali
bersama hujan dan mimpi mimpi
para pecinta "
malaikat jatuh
terpuruk
Luka hatinya
Belati tlah tertancap di hatinya
Di hujamkan oleh dia
Sang Tercinta tlah Menikam nya
.....
Aku ingin Pulang ...
taken from "Jalu"
ai miss you ai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss you
biarkan saja semua berjalan
seperti yang kamu mau
biarkan saja dan carilah
celah yang kamu inginkan
karena semua waktu adalah milikmu
gunakan waktu itu untuk mencari
carilah letak kebekuan itu
dimana ada darah yang membeku
setelah kau dapatkan
keluarkan semua kebekuan itu
congkel dan buang jauh jauh
jangan biarkan dia kembali
buang darah yang mulai mengkristal itu
buang dari dalam hati mu yang lembut
jangan biarkan dia bersarang disana
karena sungguh tidak adil
bagi seorang malaikat sepertimu
seperti yang kamu mau
biarkan saja dan carilah
celah yang kamu inginkan
karena semua waktu adalah milikmu
gunakan waktu itu untuk mencari
carilah letak kebekuan itu
dimana ada darah yang membeku
setelah kau dapatkan
keluarkan semua kebekuan itu
congkel dan buang jauh jauh
jangan biarkan dia kembali
buang darah yang mulai mengkristal itu
buang dari dalam hati mu yang lembut
jangan biarkan dia bersarang disana
karena sungguh tidak adil
bagi seorang malaikat sepertimu
"kisah ini sbg renungan bt kita untuk menyadari bhw cinta tdk harus berujud benda"
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa
pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya
inginkan"
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan
jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.".
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika kamu pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.".
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap
bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.".
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami hari ini.".
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.".
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.".
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.". "Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.".
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku berlari ke pintu dan membukanya, dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukan nya...
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa
pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya
inginkan"
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan
jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.".
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika kamu pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.".
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap
bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.".
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami hari ini.".
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.".
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.".
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.". "Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.".
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku berlari ke pintu dan membukanya, dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukan nya...