<$BlogRSDUrl$>
.''. bOlU bLoG .''.

[ aLbUm ] Bolu Album

[ eMaiL ] Bolu Mail

.''. LiNkZ .''.

- Cycle
- Konzenz
- Loschung
- Master Web
- MawMaw
- Orang Edan
- Pufy
- Rainbow
- Reeya
- Rex
- The One

.''. aRzIf .''.

  • 03/04
  • 04/04
  • 05/04
  • 06/04
  • 07/04
  • 08/04
  • 11/04
  • 07/07
  • .''. pEsEn .''.



    Power Puff Girl
    .''. bOlUtTe .''.



    Wednesday, May 26, 2004
    Hanya Dia
    -------------

    Hanya dia
    yang mampu begitu
    Baik sekaligus kejam
    Cinta sekaligus dendam

    Hanya dia
    yang mampu begitu
    Penuh hasrat dan gelisah
    Berjaringkan hasrat semesta

    Hanya dia
    yang mampu merusakku
    yang mampu meninggalkanku
    yang mampu berpikir untuk dirinya

    Aku belum bisa begitu
    Egois
    Kejam
    Tega

    Pergi takkan selesai
    Tinggalpun ukir derita
    Jadi bagaimana kini arahku
    Pelita baru tak kunjung beminyak

    Hanya dia
    yang sanggup begitu padaku...............



    aku sempat merasa mati ketika kau pergi.
    dulu. bertahun lalu.
    sedang aku belum lagi memilikimu.

    jadi
    jangan kau tanya sampai kapan
    jangan tanya keyakinan perasaanku
    tentang kamu. semua tentang kamu

    karena saat ini aku sedang takut
    takut mati menjadi sesuatu yang pasti
    karena aku mencintaimu
    dan tak mungkin bisa memiliki

    kau dan aku mungkin menyatu
    atau terpisah abadi oleh takdir yang kita miliki

    jadi
    mencintaimu seperti tengah berjudi
    dan taruhannya adalah jiwaku
    memilikimu dan terus hidup
    atau melupakanmu lalu mati

    Apa yang aku pintal selama ini?
    Kesetiaan?

    Apa yang aku harapkan?
    bahwa waktu akan menyembuhkan dan melupakan?

    Tidak.
    Apa yang aku pintal selama ini?
    Kebencian karena keterpojokan.

    Kala Aku Tiada


    Apa yang aku tinggalkan kala aku tiada?
    adakah itu seonggok kenangan yang singgah sebentar dihati
    lalu memudar karena dilupakan waktu?

    Apa yang aku tinggalkan?
    ketika matahari merah terbit di timur laut,
    belulangku menjadi bubuk putih
    dan aku ditempatkan didalam guci.
    Pada ulang tahunku, hari penikahanku, natal atau tahun baru
    aku dikunjungi.
    Setelah itu sepi. Memucat karena kerinduan.

    Apa yang aku tinggalkan kala aku tiada?
    cinta.
    Izinkan kumiliki senyummu.

    Biarlah dalam keterpurukanku aku masih dapat bernyanyi
    sebait lagu tentang bagaimana aku mencintaimu.

    Biarlah dalam kesepianku aku masih dapat menulis
    selarik puisi tentang kepingan hati yang kupersembahkan hanya untukmu.

    Biarlah dalam kesedihanku aku masih bisa meratap
    seisak tangis tentang cinta yang pernah kurangkum untukmu.

    Biarlah dalam keangkuhanku aku masih dapat mengaku
    bagaimana diri kehilanganmu..

    Apa yang mereka lakukan,
    sehingga kamu selalu datang kepadaku
    membawa luka?

    Duduklah didekatku
    Menangislah. Teriakkan dukamu
    Aku mendengarkan.

    Tidurlah dalam dekapanku
    Kehangatannya mendamaikan
    Aku akan berjaga untukmu.

    Kecupan ini, nafas cintaku.
    kubawa kembali semua gairah
    kuletakkan matahari dimatamu
    menataplah dengan hidup.

    Sayang sekali,
    seharusnya kamu lebih bahagia
    bila bersamaku...


    Kau datang dan tawarkan cintamu padaku
    Begitu manis dan indah
    Kau bawa aku mengarungi samudra cintamu
    Kau berikan aku harapan .........
    Kau gantung aku dengan ketidakpastian
    Kau duakan cintamu dengannya

    Berakhir sudah cinta kita
    Sampai sudah batas ketidakpastian itu
    Akhirnya kau tetapkan keputusanmu
    Kalian akan menikah juga

    Sedih, sakit, bahagia bercampur aduk
    Tak tahu musti bersikap
    Tegarkan hati menerima semua ini
    Walaupun ku masih menyayangimu

    Saturday, May 22, 2004
    Dear ...
    Saat aku merangkaikan kalimat demi kalimat dalam surat ini, aku bertanya-tanya, apakah langkahku dalam mengarungi kehidupan bersama dirimu adalah salah ? atau merupakan suatu langkah bijaksana ? atau mungkin langkah terhebat yang pernah kujalani dalam kehidupanku menikmati dunia ciptaan-Nya ?

    Dear ...
    Aku masih bertanya dalam hatiku, aku masih memiliki kebimbangan dalam nuraniku, aku masih ragu dalam jiwaku. Adakah kau tambatan hatiku ? atau mungkin kita hanya sepermainan ? tanpa rasa, tanpa cinta ?

    Dear ...
    Urat-urat kemarahan selalu tampil paling muka dalam panggung kehidupan kita. Otot-otot kekerasan selalu maju paling dulu dalam panggung nuansa cinta kita. Adakah ini benar adanya ? siapakah pemikir bijak bestari sesungguhnya ? dirikukah ? atau dirimu ?

    Dear ...
    Ketika malam merunduk, rembulan pucat bersembunyi, aku mendoa, menyeru dalam keagungan dan kebesaran-Nya, memohon dengan sungai air mata di pipiku agar Dia dapat menunjukkan semua yang sesungguhnya. Kesabaranku sudah menipis habis tak seperti dulu lagi, kerapuhan batinku sudah semakin parah digerogoti oleh fenomena kehidupan yang terus bermunculan dalam setiap lariku.

    Dear ...
    Aku ingin berkata bahwa kesayanganku, kecintaanku adalah untukmu namun lidahku kelu, aksara membuta, kalimat tak mencapai arti hakiki. Termangu aku dalam sepi, termangu aku dalam kesendirian, mungkin kemampuanku seperti pujangga yang sudah tua rentan dan hilang ditelan jaman ketika karyanya hanya dicampakkan orang.

    Dear ...
    Angkara dan amarah sebagai sobat telah membuat diri kita meruntuh dalam asa yang semakin kelam, aku terus menggapai mentari, aku terus mencari pelangi, aku terus berlari menuju chandra purnama tapi ... adakah dirimu bersamaku ?

    Dear ...
    Hatiku lelah, jiwaku kembali gundah, batinku mendera gulana. Sembilu menusuk seperti belati berkarat, perlahan namun pasti dan menyakitkan.

    Dear ...
    Tak kuharap banyak, tak kuminta berkelebihan. Sayangi aku apa adanya, cintai aku sebagaimana mestinya, terima aku sesungguhnya. Hanya itu.

    diriku yang mencintaimu selalu senantiasa,

    __________________
    "... dan ketika rengkuhan itu menghilang dalam bayang bulan separuh, sukma menghampa dalam damba jelaga cinta pekat tak berbias ..."

    "maukah kau ?"

    'TIDAK !'

    "berartikah diriku untukmu ?"

    'JANGAN BERI PERTANYAAN BODOH'

    hening, lengang
    desah napas menemani
    percakapan singkat
    sungai air mata kehidupan
    tangis bisu
    sesak dada
    himpitan dunia
    menghujam ...

    tidak mengerti..berartikah aku sayang?

    entahlah tiba-tiba saja semua itu hilang
    semangat kehidupan
    senyum motivasi
    tak lagi membayang pada langkah jejak hari ini

    semua terasa seperti berantakan
    bahasa tak lagi bertutur ramah
    kata tak lagi menyiratkan sejuta pesona
    aku benci dengan aksara-aksaraku
    aku tak lagi mampu merangkai nurani rasa hatiku

    mungkin dera kecewa menghantam keras
    menghujam pada waktu yang tak lagi benar

    aku benci hariku ...

    cintaku....

    walau dunia mencaci makiku....
    biarlah aku tenggelam dalam tatapanmu...
    dalam senyumanmu...
    dan selalu memeluk rasa yang selalu aku pertahankan untukmu
    walau takdir meludahiku...
    masa membunuhku..
    tak kan pernah kubiarkan ....
    indahmu menghilang dari hatiku..

    "mau kita bawa kemana?"
    "aku nggak tahu."
    "sampai kapan?"
    "aku nggak tahu."
    "sebenarnya, apa sih yang kita cari dari hubungan ini?"
    "aku nggak tahu."
    "terus, gimana, dong!? apa menurut kamu kita harus akhiri aja?"
    "hmm, jangan tanya itu, deh! karena... aku juga nggak tahu."

    yang kutahu aku memiliki perasaan ini untuk kamu
    meski aku tahu hubungan kita ini semu, absurd

    maafkan karena aku mencintaimu...



    Saturday, May 15, 2004
    In simple words and common I surprise in terrenal language my life to you you are your altogether serious simplicity I I love to you and in a piece of poesia your seras my light, my good, the space where I feed to me on your skin that is kindness the force that moves to me inside to recommence and in your body to find La Paz If the life allows me alongside yours my illusions would creceran I do not doubt it and if the life lost at a moment that fills to me of you to love despues of amarte Life you are not scared, nor doubts (this love is too good) that your seras my woman (I you pernezco all whole number) watches my chest, I leave it open so that alive in For your tranquillity you have in your hands for my weakness the unica to me you are your fine a the so single that always I have waited for you and that you arrive at my life and your it give the light me, good, that world where your words make their will the magic of this feeling that is so strong and total and your iojos that are my peace If the life allows yours alongside me you would creceran my illusions I do not doubt it and if the life lost at a moment that Life fills to me of you to love despues of amarte you are not scared, nor doubts (this love is too good) that your seras my woman (I you pernezco all whole number) watches my chest, I leave it open so that alive in you are not scared, nor doubts (this love is too good) that your seras my woman (I you pernezco all whole number) watches my chest, I leave it open so that alive in

    Yo Te Amo

    kita lambat berjumpa, ku tak berdaya mungkin kau tak perduli aku disini terluka hati...lelah ku jelang malam ku gelap sepi lama ku nanti kau tetapkan hati...ku bertahan ( cokelat)

    Thursday, May 13, 2004
    .....Hmmmm seperti na mentari kembali ke pangkuan ku...en malam ku tak sedingin biasa nya...ada sedikit kehangatan dalam malam malam ku kini...mungkin karena rembulan sedikit bersedia menerangi jiwa kelamku...ada setitik cahaya terang di tengah gulita nya hatiku..paling tidak dia menerangi hidupku..membuat ku tak berhenti berharap dan tersenyum..makin berharap cahaya itu makin terang benderang...dan aku percaya dia bersedia membantu aku berdiri..setelah sekian lama aku lumpuh...terima kasih telah kembali menyentuh kehidupanku..dan ku hanya bisa berharap mau kah kamu menjaga dan tetep menopang kedua kaki ku untuk selama nya? agar aku bisa berdiri dan berjalan tegak menghadapi semua nya tentunya bersama mu saja...HUUAAAHHH seperti beban berat benar benar terlepas dari pundak ku...setidak nya ada sedikit celah untuk aku bersemangat menaklukan dunia ini...untuk melihat mu tersenyum bangga padaku...sayang berjanjilah ini untuk selama nya? :*muac*

    bulan pucat pancarkan sinar kelam
    mendung menutup hati
    hujan di pelupuk
    dingin meraja
    sepi mendera

    hanya ratap yang terdengar
    satu pinta di panjatkan

    "Tuhanku , Jika Kau memang ada untuk ku
    Kembalikan Sayapku
    agar aku dapat kembali
    bersama hujan dan mimpi mimpi
    para pecinta "

    malaikat jatuh
    terpuruk
    Luka hatinya
    Belati tlah tertancap di hatinya
    Di hujamkan oleh dia
    Sang Tercinta tlah Menikam nya


    .....
    Aku ingin Pulang ...

    taken from "Jalu"

    Saturday, May 08, 2004
    ai miss you ai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss youai miss you

    Friday, May 07, 2004
    biarkan saja semua berjalan
    seperti yang kamu mau
    biarkan saja dan carilah
    celah yang kamu inginkan

    karena semua waktu adalah milikmu
    gunakan waktu itu untuk mencari
    carilah letak kebekuan itu
    dimana ada darah yang membeku

    setelah kau dapatkan
    keluarkan semua kebekuan itu
    congkel dan buang jauh jauh
    jangan biarkan dia kembali

    buang darah yang mulai mengkristal itu
    buang dari dalam hati mu yang lembut
    jangan biarkan dia bersarang disana
    karena sungguh tidak adil

    bagi seorang malaikat sepertimu


    Sunday, May 02, 2004
    "kisah ini sbg renungan bt kita untuk menyadari bhw cinta tdk harus berujud benda"

    Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
    Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa
    pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

    Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
    sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

    Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
    "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
    "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya
    inginkan"
    Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

    Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

    Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".

    Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan
    jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya
    Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
    Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

    Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
    Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....

    "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

    Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya.
    Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

    "Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.".

    "Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika kamu pulang.".

    "Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.".

    "Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap
    bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.".

    "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami hari ini.".

    "Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.".

    "Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

    "Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
    Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.".

    "Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.". "Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.".

    Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.

    "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya.
    Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."

    "Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku berlari ke pintu dan membukanya, dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukan nya...